Showing posts with label Sahabat Nabi Muhammad. Show all posts
Showing posts with label Sahabat Nabi Muhammad. Show all posts

Thursday, 12 September 2013

ABDURRAHMAN BIN AUF



ABDURRAHMAN BIN AUF



 Dia adalah Abdurrahman bin‘Auf  bin Abdu Auf bin Abd bin Al Harts bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luay. Abdurahman bin ‘Auf termasuk orang yang pertama-tama masuk Islam bersama ‘Utsman bin Affan, Thalhah bin ‘Ubaidillah, Zubair bin Awwam dan Sa’ad bin Abi Waqqash, dengan sebab dakwah Abu Bakar ra. Dia ikut merasakan penderitaan akibat penindasan dan penganiayaan kaum Quraisy kepada kaum muslimin yang masih lemah.
Pada waktu Nabi saw memerintahkan sahabat berhjrah ke Habasyah, ia ikut berhijrah ke Habasyah. Kemudian kembali lagi ke Mekkah. Setelah di Mekkah, penindasan yang dilakukan kaum musyrik tetap tidak kunjung mereda, Nabi saw pun memerintahkan mereka hijrah kedua kalinya ke Habasyah, Abdurrahman bin ‘Auf pun hujrah ke Habasyah kedua kalinya. Kemudian dia berhijrah ke Madinah.
Abdurrahman bin ‘Auf adalah orang yang sangat sukses di dalam perniagaannya, sehingga dia menjadi orang yang sangat kaya raya. Allah memberinya keberkahan dalam perniagaannya sehingga dirinyapun merasa takjub, seraya berkata, “Sungguh kulihat diriku, seandainya aku mengangkat batu, niscaya ketemukan di bawahnya emas dan parak.”
Ketika Rasulullah saw mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar, maka Abdurrahman bin ‘Auf dipersaudarakan dengan Sa’ad bin Rabi’, seorang Anshar. Sa’ad berkata kepadanya, “Saudaraku, aku adalah penduduk Madinah yang kaya, silahkan pilih separuh hartaku dan ambillah! Dan aku mempunyai dua orang istri, coba perhatikan yang lebih menarik bagimu, akan kuceraikan dia sehingga engkau bisa memperistrikannya.”
Abdurrahman bin ‘Auf menjawab, “Semoga Allah memberkahimu, istrimu dan hartamu! Tunjukkan kepadaku pasar agar aku bisa berniaga.” Tidak begitu lama berdagang, dia memperoleh keuntungan yang besar, akhirnya diapun menjadi orang yang kaya raya.
Keedermawanan Abdurrahman bin ‘Auf terhadap hartanya yang melimpah seakan-akan tidak ada yang menyamai. Sebagai gambaran, Abdurrahman bin ‘Auf pernah membawa kafilah dari Syam yang terdiri atas 700 ekor onta yang sarat dengan bahan makanan di atasnya, maka dia pun menyedekahkan kepada penduduk Madinah. Aisyah ra. berkata ketika mendengar hal tersebut, “Ingat, aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda, “Kulihat Abdurrahman bin ‘Auf masuk surga dengan perlahan-lahan’.
Abdurrahman bin ‘Auf berkata, “Engkau telah mengingatkanku dengan suatu hadits yang tidak pernah kulupakan…” kemudian katanya, “Dengan ini aku berharap dengan sangat agar engkau menjadi saksi, bahwa kafilah ini dengan semua muatannya, berikut kendaraan dan perlengkapannya, kupersembahkan di jalan Allah azza wa jalla”.
Pada suatu hari Abdurrahman bin Auf menjual tanah seharga 40.000 dinar, kemudian uang itu dibagi-bagikannya semua untuk Bani Zuhrah, untuk istri-istri Nabi saw dan untuk kaum fakir miskin. Disedekahkannya pada suatu hari, 500 ekor kuda untuk perlengkapan pearang bala tentara Islam. Di hari lain dia menyerahkan 1500 ekor kuda juga untuk keperluan jihad di jalan Allah.
Menjelang wafatnya, dia mewasiyatkan 50.000 dinar untuk sabilillah dan dia mewasiyatkan juga bagi sahabat yang ikut dalam perang Badar dan masih hidup, masing-masing 400 dinar, hingga ‘Utsman bin Affan ra, yang terbilang kaya juga mengambil bagiannya dari wasiyat itu, seraya berkata, “Harta Abdurrahman bin Auf halal lagi bersih dan memakan harta itu membawa keselamatan dan keberkahan.”
Keutamaannya sebagai seorang sahabat yang masuk Islam pertama-tama, persaksian Rasullullah saw bahwa dia termasuk salah satu di antara sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga, kekayaan yang disertai kedermawanan yang tiada tara dan tiga kali hijrah yang dia lakukan dan banyaknya pertempuran bersama Rasulullah yang dia ikuti, tidaklah membuat dia menyombongkan diri, bahkan dengan rendah diri.
Suatu hari, ketika dihidangkan kepadanya makanan berbuka puasa, dan selera makannya timbul.Namun dia menangis sambil berkata, “Mush’af bin ‘Umair telah gugur sebagai syahid, ia seorang yang jauh lebih baik dariku, sedang ia hanya mendapat kafan sehelai burdah, jika ditutupkan ke kepalanya maka kelihatan dua kakinya, dan jika ditutupkan ke kedua kakinya, terbukalah kepalanya.” Katanya juga, “Hamzah jauh lebih baik daripada diriku, iapun gugur sebagai syahid, dan ia disaat dikuburkan hanya terdapat baginya sehelai selendang. Telah dihamparkan bagi kami dunia seluas-luasnya, dan telah diberikan pula kepada kami hasil sebanyak-banyaknya. Sungguh kami khawatir kalau telah didahulukan pahala kebaikan kami.”
Pada suatu hari yang lain, ketika para sahabat menghadiri jamuan makan di rumahnya, iapun menangis. Seorang sahabat bertanya, “Mengapa kau menangis, ya Abu Muhammad,..” Diapun berkata, “Rasulullah saw wafat tidak pernah beliau dan keluarganya sampai kenyang makan roti gandum, apa harapan kita jika dipanjangkan usia tetapi tidak menambah kebaikan bagi kita.’
Dari sisi perjuangannya di jalan Allah, Abdurrahman bin ‘Auf telah banyak sekali berjasa kepada Islam dan kaum muslimin sejak permulaan dakwah, masa Madinah sampai akhir hayatnya. Di tubuhnya terdapat dua puluh bekas luka pada perang Uhud dan salah satu dari bekas luka itu menyebabkan dia pincang yang tidak sembuh-sembuh, dan beberapa giginya rontok yang menyebabkan kecadelan dalam perkataannya.
Sewaktu Umar bin Al Khaththab hendak meninggal, dia memilih enam orang untuk diangkat sebagai khalifah penggantinya. Enam orang sahabat tersebut sepakat mengangkat Abdurrahman bin ‘Auf sebagai khalifah. Namun dia berkata, “Demi Allah, daripada aku menerima jabatan itu, lebih baik ambil pisau lalu taruh ke atas leherku kemudian kalian tusukkan sehingga tembus ke sebelah.”
Demikianlah dia, sifat zuhudnya dan tidak gila kekuasaan, menjadikan dia melepaskan haknya sebagai khalifah. Setelah menyelesaikan tugasnya mengawal dan membela Islam sejak pertama kali, Abdurrahman bin ‘Auf mengakhiri hidupnya pada tahun 32 hijriyah. Aisyah ra memberinya kemuliaan dengan menyediakan kuburan di pekarangannya, dekat makam Rasulullah saw, Abu Bakar dan Umar.
Namun pendidikan Islam yang sempurna dari Rasulullah saw menjadikan dia merasa malu mendapat kemuliaan tersebut. Maka dia menolak kemuliaan itu karena merasa malu dengan kedudukan itu, di samping itu dia pernah berjanji dengan Utsman bin Madh’un, yaitu jika salah seorang di antara mereka meninggal sesudah yang lain, hendaklah dikuburkan di dekat sahabatnya.
Umar ra pernah berkata: “Rasulullah saw wafat dalam keadaan ridha kepada mereka.” Rasulullah saw pernah bersabda, “Abdurahman bin ‘Auf di dalam surga.”

Tuesday, 3 September 2013

Bung Hatta



                                            Mohammad Hatta



Mohammad Hatta lahir pada tanggal 12 Agustus 1902 di Bukittinggi. Di kota kecil yang indah inilah Bung Hatta dibesarkan di lingkungan keluarga ibunya. Ayahnya, Haji Mohammad Djamil, meninggal ketika Hatta berusia delapan bulan. Dari ibunya, Hatta memiliki enam saudara perempuan. Ia adalah anak laki-laki satu-satunya. Sejak duduk di MULO di kota Padang, ia telah tertarik pada pergerakan. Sejak tahun 1916, timbul perkumpulan-perkumpulan pemuda seperti Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Minahasa. dan Jong Ambon. Hatta masuk ke perkumpulan Jong Sumatranen Bond.

Sebagai bendahara Jong Sumatranen Bond, ia menyadari pentingnya arti keuangan bagi hidupnya perkumpulan. Tetapi sumber keuangan baik dari iuran anggota maupun dari sumbangan luar hanya mungkin lancar kalau para anggotanya mempunyai rasa tanggung jawab dan disiplin. Rasa tanggung jawab dan disiplin selanjutnya menjadi ciri khas sifat-sifat Mohammad Hatta.

Masa Studi di Negeri Belanda
Pada tahun 1921 Hatta tiba di Negeri Belanda untuk belajar pada Handels Hoge School di Rotterdam. Ia mendaftar sebagai anggota Indische Vereniging. Tahun 1922, perkumpulan ini berganti nama menjadi Indonesische Vereniging. Perkumpulan yang menolak bekerja sama dengan Belanda itu kemudian berganti nama lagi menjadi Perhimpunan Indonesia (PI). Hatta juga mengusahakan agar majalah perkumpulan, Hindia Poetra, terbit secara teratur sebagai dasar pengikat antaranggota. Pada tahun 1924 majalah ini berganti nama menjadi Indonesia Merdeka. Hatta lulus dalam ujian handels economie (ekonomi perdagangan) pada tahun 1923. Semula dia bermaksud menempuh ujian doctoral di bidang ilmu ekonomi pada akhir tahun 1925. Karena itu pada tahun 1924 dia non-aktif dalam PI. Tetapi waktu itu dibuka jurusan baru, yaitu hukum negara dan hukum administratif. Hatta pun memasuki jurusan itu terdorong oleh minatnya yang besar di bidang politik.

Perpanjangan rencana studinya itu memungkinkan Hatta terpilih menjadi Ketua PI pada tanggal 17 Januari 1926. Pada kesempatan itu, ia mengucapkan pidato inaugurasi yang berjudul "Economische Wereldbouw en Machtstegenstellingen"--Struktur Ekonomi Dunia dan Pertentangan kekuasaan. Dia mencoba menganalisis struktur ekonomi dunia dan berdasarkan itu, menunjuk landasan kebijaksanaan non-kooperatif. Sejak tahun 1926 sampai 1930, berturut-turut Hatta dipilih menjadi Ketua PI. Di bawah kepemimpinannya, PI berkembang dari perkumpulan mahasiswa biasa menjadi organisasi politik yang mempengaruhi jalannya politik rakyat di Indonesia. Sehingga akhirnya diakui oleh Pemufakatan Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPI) PI sebagai pos depan dari pergerakan nasional yang berada di Eropa. PI melakukan propaganda aktif di luar negeri Belanda. Hampir setiap kongres intemasional di Eropa dimasukinya, dan menerima perkumpulan ini. Selama itu, hampir selalu Hatta sendiri yang memimpin delegasi.

Pada tahun 1926, dengan tujuan memperkenalkan nama "Indonesia", Hatta memimpin delegasi ke Kongres Demokrasi Intemasional untuk Perdamaian di Bierville, Prancis. Tanpa banyak oposisi, "Indonesia" secara resmi diakui oleh kongres. Nama "Indonesia" untuk menyebutkan wilayah Hindia Belanda ketika itu telah benar-benar dikenal kalangan organisasi-organisasi internasional. Hatta dan pergerakan nasional Indonesia mendapat pengalaman penting di Liga Menentang Imperialisme dan Penindasan Kolonial, suatu kongres internasional yang diadakan di Brussels tanggal 10-15 Pebruari 1927. Di kongres ini Hatta berkenalan dengan pemimpin-pemimpin pergerakan buruh seperti G. Ledebour dan Edo Fimmen, serta tokoh-tokoh yang kemudian menjadi negarawan-negarawan di Asia dan Afrika seperti Jawaharlal Nehru (India), Hafiz Ramadhan Bey (Mesir), dan Senghor (Afrika). Persahabatan pribadinya dengan Nehru mulai dirintis sejak saat itu.

Pada tahun 1927 itu pula, Hatta dan Nehru diundang untuk memberikan ceramah bagi "Liga Wanita Internasional untuk Perdamaian dan Kebebasan" di Gland, Swiss. Judul ceramah Hatta L 'Indonesie et son Probleme de I' Independence (Indonesia dan Persoalan Kemerdekaan). Bersama dengan Nazir St. Pamontjak, Ali Sastroamidjojo, dan Abdul Madjid Djojoadiningrat, Hatta dipenjara selama lima setengah bulan. Pada tanggal 22 Maret 1928, mahkamah pengadilan di Den Haag membebaskan keempatnya dari segala tuduhan. Dalam sidang yang bersejarah itu, Hatta mengemukakan pidato pembelaan yang mengagumkan, yang kemudian diterbitkan sebagai brosur dengan nama "Indonesia Vrij", dan kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia sebagai buku dengan judul Indonesia Merdeka. Antara tahun 1930-1931, Hatta memusatkan diri kepada studinya serta penulisan karangan untuk majalah Daulat Ra‘jat dan kadang-kadang De Socialist. Ia merencanakan untuk mengakhiri studinya pada pertengahan tahun 1932.

Kembali ke Tanah Air
Pada bulan Juli 1932, Hatta berhasil menyelesaikan studinya di Negeri Belanda dan sebulan kemudian ia tiba di Jakarta. Antara akhir tahun 1932 dan 1933, kesibukan utama Hatta adalah menulis berbagai artikel politik dan ekonomi untuk Daulat Ra’jat dan melakukan berbagai kegiatan politik, terutama pendidikan kader-kader politik pada Partai Pendidikan Nasional Indonesia. Prinsip non-kooperasi selalu ditekankan kepada kader-kadernya. Reaksi Hatta yang keras terhadap sikap Soekarno sehubungan dengan penahannya oleh Pemerintah Kolonial Belanda, yang berakhir dengan pembuangan Soekarno ke Ende, Flores, terlihat pada tulisan-tulisannya di Daulat Ra’jat, yang berjudul "Soekarno Ditahan" (10 Agustus 1933), "Tragedi Soekarno" (30 Nopember 1933), dan "Sikap Pemimpin" (10 Desember 1933).

Pada bulan Pebruari 1934, setelah Soekarno dibuang ke Ende, Pemerintah Kolonial Belanda mengalihkan perhatiannya kepada Partai Pendidikan Nasional Indonesia. Para pimpinan Partai Pendidikan Nasional Indonesia ditahan dan kemudian dibuang ke Boven Digoel. Seluruhnya berjumlah tujuh orang. Dari kantor Jakarta adalah Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, dan Bondan. Dari kantor Bandung: Maskun Sumadiredja, Burhanuddin, Soeka, dan Murwoto. Sebelum ke Digoel, mereka dipenjara selama hampir setahun di penjara Glodok dan Cipinang, Jakarta. Di penjara Glodok, Hatta menulis buku berjudul “Krisis Ekonomi dan Kapitalisme”.

Masa Pembuangan
Pada bulan Januari 1935, Hatta dan kawan-kawannya tiba di Tanah Merah, Boven Digoel (Papua). Kepala pemerintahan di sana, Kapten van Langen, menawarkan dua pilihan: bekerja untuk pemerintahan kolonial dengan upah 40 sen sehari dengan harapan nanti akan dikirim pulang ke daerah asal, atau menjadi buangan dengan menerima bahan makanan in natura, dengan tiada harapan akan dipulangkan ke daerah asal. Hatta menjawab, bila dia mau bekerja untuk pemerintah kolonial waktu dia masih di Jakarta, pasti telah menjadi orang besar dengan gaji besar pula. Maka tak perlulah dia ke Tanah Merah untuk menjadi kuli dengan gaji 40 sen sehari.

Dalam pembuangan, Hatta secara teratur menulis artikel-artikel untuk surat kabar Pemandangan. Honorariumnya cukup untuk biaya hidup di Tanah Merah dan dia dapat pula membantu kawan-kawannya. Rumahnya di Digoel dipenuhi oleh buku-bukunya yang khusus dibawa dari Jakarta sebanyak 16 peti. Dengan demikian, Hatta mempunyai cukup banyak bahan untuk memberikan pelajaran kepada kawan-kawannya di pembuangan mengenai ilmu ekonomi, sejarah, dan filsafat. Kumpulan bahan-bahan pelajaran itu di kemudian hari dibukukan dengan judul-judul antara lain, "Pengantar ke Jalan llmu dan Pengetahuan" dan "Alam Pikiran Yunani." (empat jilid).

Pada bulan Desember 1935, Kapten Wiarda, pengganti van Langen, memberitahukan bahwa tempat pembuangan Hatta dan Sjahrir dipindah ke Bandaneira. Pada Januari 1936 keduanya berangkat ke Bandaneira. Mereka bertemu Dr. Tjipto Mangunkusumo dan Mr. Iwa Kusumasumantri. Di Bandaneira, Hatta dan Sjahrir dapat bergaul bebas dengan penduduk setempat dan memberi pelajaran kepada anak-anak setempat dalam bidang sejarah, tatabuku, politik, dan lain-Iain.

Kembali Ke Jawa: Masa Pendudukan Jepang
Pada tanggal 3 Pebruari 1942, Hatta dan Sjahrir dibawa ke Sukabumi. Pada tanggal 9 Maret 1942, Pemerintah Hindia Belanda menyerah kepada Jepang, dan pada tanggal 22 Maret 1942 Hatta dan Sjahrir dibawa ke Jakarta. Pada masa pendudukan Jepang, Hatta diminta untuk bekerja sama sebagai penasehat. Hatta mengatakan tentang cita-cita bangsa Indonesia untuk merdeka, dan dia bertanya, apakah Jepang akan menjajah Indonesia? Kepala pemerintahan harian sementara, Mayor Jenderal Harada. menjawab bahwa Jepang tidak akan menjajah. Namun Hatta mengetahui, bahwa Kemerdekaan Indonesia dalam pemahaman Jepang berbeda dengan pengertiannya sendiri. Pengakuan Indonesia Merdeka oleh Jepang perlu bagi Hatta sebagai senjata terhadap Sekutu kelak. Bila Jepang yang fasis itu mau mengakui, apakah sekutu yang demokratis tidak akan mau? Karena itulah maka Jepang selalu didesaknya untuk memberi pengakuan tersebut, yang baru diperoleh pada bulan September 1944.

Selama masa pendudukan Jepang, Hatta tidak banyak bicara. Namun pidato yang diucapkan di Lapangan Ikada (sekarang Lapangan Merdeka) pada tanggaI 8 Desember 1942 menggemparkan banyak kalangan. Ia mengatakan, “Indonesia terlepas dari penjajahan imperialisme Belanda. Dan
oleh karena itu ia tak ingin menjadi jajahan kembali. Tua dan muda merasakan ini setajam-tajamnya. Bagi pemuda Indonesia, ia Iebih suka melihat Indonesia tenggelam ke dalam lautan daripada mempunyainya sebagai jajahan orang kembali."

Proklamasi
Pada awal Agustus 1945, Panitia Penyidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia diganti dengan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, dengan Soekamo sebagai Ketua dan Mohammad Hatta sebagai Wakil Ketua. Anggotanya terdiri dari wakil-wakil daerah di seluruh Indonesia, sembilan dari Pulau Jawa dan dua belas orang dari luar Pulau Jawa. Pada tanggal 16 Agustus 1945 malam, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia mempersiapkan proklamasi dalam rapat di rumah Admiral Maeda (JI Imam Bonjol, sekarang), yang berakhir pada pukul 03.00 pagi keesokan harinya. Panitia kecil yang terdiri dari 5 orang, yaitu Soekamo, Hatta, Soebardjo, Soekarni, dan Sayuti Malik memisahkan diri ke suatu ruangan untuk menyusun teks proklamasi kemerdekaan. Soekarno meminta Hatta menyusun teks proklamasi yang ringkas. Hatta menyarankan agar Soekarno yang menuliskan kata-kata yang didiktekannya. Setelah pekerjaan itu selesai. mereka membawanya ke ruang tengah, tempat para anggota lainnya menanti. Soekarni mengusulkan agar naskah proklamasi tersebut ditandatangi oleh dua orang saja, Soekarno dan Mohammad Hatta. Semua yang hadir menyambut dengan bertepuk tangan riuh.
Tangal 17 Agustus 1945, kemerdekaan Indonesia diproklamasikan oleh Soekarno dan Mohammad Hatta atas nama bangsa Indonesia, tepat pada jam 10.00 pagi di Jalan Pengangsaan Timur 56 Jakarta. Tanggal 18 Agustus 1945, Ir Soekarno diangkat sebagai Presiden Republik Indonesia dan Drs. Mohammad Hatta diangkat menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia. Soekardjo Wijopranoto mengemukakan bahwa Presiden dan Wakil Presiden harus merupakan satu dwitunggal.

Periode Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia
Indonesia harus mempertahankan kemerdekaannya dari usaha Pemerintah Belanda yang ingin menjajah kembali. Pemerintah Republik Indonesia pindah dari Jakarta ke Yogyakarta. Dua kali perundingan dengan Belanda menghasilkan Perjanjian Linggarjati dan Perjanjian Reville, tetapi selalu berakhir dengan kegagalan akibat kecurangan pihak Belanda. Untuk mencari dukungan luar negeri, pada Juli I947, Bung Hatta pergi ke India menemui Jawaharlal Nehru dan Mahatma Gandhi. dengan menyamar sebagai kopilot bernama Abdullah (Pilot pesawat adalah Biju Patnaik yang kemudian menjadi Menteri Baja India di masa Pemerintah Perdana Menteri Morarji Desai). Nehru berjanji, India dapat membantu Indonesia dengan protes dan resolusi kepada PBB agar Belanda dihukum.

Kesukaran dan ancaman yang dihadapi silih berganti. September 1948 PKI melakukan pemberontakan. 19 Desember 1948, Belanda kembali melancarkan agresi kedua. Presiden dan Wapres ditawan dan diasingkan ke Bangka. Namun perjuangan Rakyat Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan terus berkobar di mana-mana. Panglima Besar Soediman melanjutkan memimpin perjuangan bersenjata. Pada tanggal 27 Desember 1949 di Den Haag, Bung Hatta yang mengetuai Delegasi Indonesia dalam Konperensi Meja Bundar untuk menerima pengakuan kedaulatan Indonesia dari Ratu Juliana. Bung Hatta juga menjadi Perdana Menteri waktu Negara Republik Indonesia Serikat berdiri. Selanjutnya setelah RIS menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia, Bung Hatta kembali menjadi Wakil Presiden.

Periode Tahun 1950-1956
Selama menjadi Wakil Presiden, Bung Hatta tetap aktif memberikan ceramah-ceramah di berbagai lembaga pendidikan tinggi. Dia juga tetap menulis berbagai karangan dan buku-buku ilmiah di bidang ekonomi dan koperasi. Dia juga aktif membimbing gerakan koperasi untuk melaksanakan cita-cita dalam konsepsi ekonominya. Tanggal 12 Juli 1951, Bung Hatta mengucapkan pidato radio untuk menyambut Hari Koperasi di Indonesia. Karena besamya aktivitas Bung Hatta dalam gerakan koperasi, maka pada tanggal 17 Juli 1953 dia diangkat sebagai Bapak Koperasi Indonesia pada Kongres Koperasi Indonesia di Bandung. Pikiran-pikiran Bung Hatta mengenai koperasi antara lain dituangkan dalam bukunya yang berjudul Membangun Koperasi dan Koperasi Membangun (1971).

Pada tahun 1955, Bung Hatta mengumumkan bahwa apabila parlemen dan konsituante pilihan rakyat sudah terbentuk, ia akan mengundurkan diri sebagai Wakil Presiden. Niatnya untuk mengundurkan diri itu diberitahukannya melalui sepucuk surat kepada ketua Perlemen, Mr. Sartono. Tembusan surat dikirimkan kepada Presiden Soekarno. Setelah Konstituante dibuka secara resmi oleh Presiden, Wakil Presiden Hatta mengemukakan kepada Ketua Parlemen bahwa pada tanggal l Desember 1956 ia akan meletakkan jabatannya sebagai Wakil Presiden RI. Presiden Soekarno berusaha mencegahnya, tetapi Bung Hatta tetap pada pendiriannya.

Pada tangal 27 Nopember 1956, ia memperoleh gelar kehormatan akademis yaitu Doctor Honoris Causa dalam ilmu hukum dari Universitas Gajah Mada di Yoyakarta. Pada kesempatan itu, Bung Hatta mengucapkan pidato pengukuhan yang berjudul “Lampau dan Datang”. Sesudah Bung Hatta meletakkan jabatannya sebagai Wakil Presiden RI, beberapa gelar akademis juga diperolehnya dari berbagai perguruan tinggi. Universitas Padjadjaran di Bandung mengukuhkan Bung Hatta sebagai guru besar dalam ilmu politik perekonomian. Universitas Hasanuddin di Ujung Pandang memberikan gelar Doctor Honoris Causa dalam bidang Ekonomi. Universitas Indonesia memberikan gelar Doctor Honoris Causa di bidang ilmu hukum. Pidato pengukuhan Bung Hatta berjudul “Menuju Negara Hukum”.

Pada tahun 1960 Bung Hatta menulis "Demokrasi Kita" dalam majalah Pandji Masyarakat. Sebuah tulisan yang terkenal karena menonjolkan pandangan dan pikiran Bung Hatta mengenai perkembangan demokrasi di Indonesia waktu itu. Dalam masa pemerintahan Orde Baru, Bung Hatta lebih merupakan negarawan sesepuh bagi bangsanya daripada seorang politikus. Hatta menikah dengan Rahmi Rachim pada tanggal l8 Nopember 1945 di desa Megamendung, Bogor, Jawa Barat. Mereka mempunyai tiga orang putri, yaitu Meutia Farida, Gemala Rabi'ah, dan Halida Nuriah. Dua orang putrinya yang tertua telah menikah. Yang pertama dengan Dr. Sri-Edi Swasono dan yang kedua dengan Drs. Mohammad Chalil Baridjambek. Hatta sempat menyaksikan kelahiran dua cucunya, yaitu Sri Juwita Hanum Swasono dan Mohamad Athar Baridjambek.

Pada tanggal 15 Agustus 1972, Presiden Soeharto menyampaikan kepada Bung Hatta anugerah negara berupa Tanda Kehormatan tertinggi "Bintang Republik Indonesia Kelas I" pada suatu upacara kenegaraan di Istana Negara. Bung Hatta, Proklamator Kemerdekaan dan Wakil Presiden Pertama Republik Indonesia, wafat pada tanggal 14 Maret 1980 di Rumah Sakit Dr Tjipto Mangunkusumo, Jakarta, pada usia 77 tahun dan dikebumikan di TPU Tanah Kusir pada tanggal 15 Maret 1980.


Monday, 2 September 2013

Sa'ad bin Abi Waqqash



SAAD BIN ABI WAQQASH



Nama asli Sa’ad bin Abi Waqqash adalah Malik bin Uhaib bin Abdu Manaf bin Zuhrah bin Kilab bin Ka’ab bin Luay. Sa’ad mempunyai banyak keistimewaan, di antaranya adalah dialah orang yang pertama-tama melepaskan anak panah dalam membela diin Allah dan juga orang yang pertama terkena anak panah. Dia juga satu-satunya orang yang dijamin Rasulullah saw dengan jaminan kedua orang tua beliau. Rasulullah saw bersabda pada perang Uhud,”Panahlah wahai Sa’ad, ibu bapakku menjadi jaminan bagimu.”
Sa’ad juga seorang yang sangat mahir berkuda dan menjadi anggota pasukan berkuda pada perang Badar dan perang Uhud. Dia juga mempunyai dua senjata yang sangat handal, yaitu do’a dan panahnya. Do’a Sa’ad dikabulkan Allah dan bidikan panahnya senantiasa tepat. Rasulullah saw pernah bersabda, ”Ya Allah, tepatkan bidikan panahnya dan kabulkanlah do’anya.”
Sa’ad juga seorang yang kaya raya dengan harta yang halal dan menolak harta yang syubhat, makannya dan lisannya terpelihara dengan kesucian. Sa’ad termasuk salah seorang di antara sepuluh orang yang dipersaksikan Rasulullah saw masuk surga. Rasulullah saw pernah bersabda, ”Sekarang akan muncul di hadapan kalian seorang laki-laki penduduk surga.” yang dimaksaud adalah Sa’ad bin Abi Waqqash.
Ketika Abdullah bin ’Amar bin ’Ash bertanya kepadanya tentang amal yang dapat mendekatkan diri kepada Allah. Sa’ad menjawab, ”Tak lebih dari amal ibadah yang biasa kita kerjakan, hanya saja saya tidak pernah menaruh dendam atau niat jahat kepada seorangpun di antra kaum muslimin.”
Sa’ad masuk Islam pada usia 17 tahun bersama Abdurahman bin ‘Auf, ‘Utsman bin Affan, Thalhah bin ‘Ubaidillah, dan Zubair bin Awwam, dengan sebab dakwah Abu Bakar ra. Ketika Sa’ad masuk Islam, ibunya mencegah dan menghalang-halangi dengan segala cara, sampai-sampai ibunya melakukan aksi mogok makan dan minum dengan harapan Sa’ad mau kembali kepada kemusyrikan.
Namun Sa’ad tidak terpengaruh akan hal itu. Ia tetap pada pendiriannya di dalam keimanan kepada Allah dan Rasul-nya. Ketika kondisi ibunya semakin kritis akibat mogok makan tersebut, keluarganya membawa sa’ad menyaksikannya untuk terakhir kalinya dengan harapan hatinya melunak jika melihat ibunya sekarat. Tetapi keimanan di hati Sa’ad yang kuat tidak mampu mengubah keaadaannya. Diapun berkata dengan lantang, “Demi Allah, ketahuilah wahai ibunda, seandainya ibu mempunyai seratus nyawa, lalu ia keluar satu persatu, tidaklah aku akan meninggalkan diin ini walau ditebus dengan apapun juga ! Maka terserahlah pada ibu, apakah ibu akan makan atau tidak!” Akhirnya ibunya mundur setelah tidak mampu merubah keyakinan Sa’ad.
Ketika Rasulullah saw memulai dakwah di Mekkah, kaum musyrikin melakukan perlawanan terhadapnya. Berbagai macam penindasan dan penyiksaan dialami oleh kaum muslimin. Tidak terkecuali, Sa’adpun mengalami masa tersebut sebagaimana sahabat lainnya. Di masa Madinah Sa’ad juga mengalami berbagai pertempuran yang dilakukan bersama Nabi saw.
Ketika hendak menyerang Persia, Khalifah Umar bin Al Khaththab hendak memimpin sendiri pertempuran tersebut dengan menunjuk Ali bin Abi Thalib sebagai wakilnya di Madinah. Atas usul Abdurrahman bin’Auf, Umarpun kembali ke Madinah setelah bermusyawarah dengan kaum muslimin, karena sangat disayangkan apabila Umar terbunuh waktu itu, karena Islam sangat membutuhkannya.
Akhirnya Sa’ad bin Abi Waqqash di angkat sebagai gubernur militer di Iraq yang bertugas mengatur pemerintahan dan sebagai panglima perang.  Perang Qadisiyah, dimana pasukan Persia yang terdiri atas 100.000 orang prajurit yang terlatih, dilengkapi dengan persenjataan dan alat pertahanan yang ditakuti dunia saat itu, dipimpin oleh para jenderal yang hebat dan ahli-ahli siasat perang yang cerdik dan licik, sementara Sa’ad memimpin hanya 30.000 ribu prajurit.
Ketika kedua pasukan hampir bertemu, Sa’ad meminta pengarahan dari Khalifah Umar bin Al Khaththab, maka ’Umar memberi pengarahan yang antara lain peringatan bahwa tidak ada hubungan antara keluarga kecuali atas dasar ketaatan kepada Allah dan agar berpegang teguh kepada Rasulullah saw semenjak di utus dan agar mereka tidak gentar menghadapi musuh. Sa’ad menulis surat kepada ’Umar yang menjelaskan posisi pasukannya.
Ketika pasukan Persia yang dipimpin Rustum telah menduduki Sabath dengan mengerahkan pasukan gajah dan berkudanya, dan mulai bergerak menuju kaum muslimin dan tak ada pilihan lain kecuali perang, sementara saat itu Sa’ad sedang sakit bisul di sekujur tubuhnya hingga tidak dapat duduk apalagi menaiki kuda dalam pertempuran yang bisa dipastikan akan bersimbah darah.
Tanpa menghiraukan rasa sakit, Sa’ad memimpin prajurit muslimin saat itu sehingga prajurit mslim sanggup menewaskan panglima pasukan musuh dan prajurit-prajurit pilihan mereka dan akhirnya mereka berhasil dihaklau prajurit muslimin hingga sampai Nahawand lalu ke Madain. Preestasi gemilang Sa’ad bin Abi Waqqash terukir....
Dua setengah tahun berlalu dari perang Qadisiyah yang dimenangkan kaum muslimin dibawan komandan Sa’ad bin Abi Waqqash, Sa’ad kembali mengerahkan pasukannya ke Madain untuk membersihkan sisa-sisa tentara Persi. Dengan menyeberangi sungai Tigris yan saat itu sedang banjir dan stategi perang yang sangat hebat, Saat bin AbiWaqqsh berhasil mengalahkan Persia di Madain. Saad di angkat oleh Umar sebagai gubernur wilayah Iraq. Iapun melai pembangunan dan perluasan kota. Kota Kuffah diperluas, dia mengumumkan berlakunya syari’at Islam di wilayah yang luas itu.
Ketika terjadi fitnah besar, pada kaum muslimin dengan memberontaknya Muawiyah terhadap kekhalifahan Ali bin Abi Thalib ra. Sa’ad bin Abi Waqqash tidak hendak mencampurinya, bahkan dia berpesan kepada keluarga dan anak-anaknya untuk tidak menyampaikan suatu berita apapun mengenai hal itu kepadanya.
Ketika anak saudaranya, Hasyim bin Utbah mengatakan kepadanya, “Paman, di sini telah siap seratus ribu bilah pedang, yang menganggap bahwa pamanlah yang lebih berhak mengenai urusan ini.” Sa’adpun menjawab, “Dari seratus ribu bilah pedang itu, yang aku inginkan hanya sebilah pedang yang apabila aku tebaskan kepada seorang mukmin tak akan mempen sedikitpun, tetapi apabila aku tebaskan kepada kaum kafir pastilah putus batang lehernya!”
Tatkala kekhalifahan jatuh ketangan Muawiyah dan Muawiyah bertanya kepadanya, mengapa dia tidak berperang dipihaknya. Sa’ad menjawab, “Saya tidak hendak memerangi seorang laki-laki –maksudnya Ali bin Abi Thalib- yang mengenai diriya Rasulullah saw bersabda: Engkau disampingku, tak ubahnya seperti kedudukan Harun di samping Musa, tetapi tidak ada nabi sesudahku!”
Pada tahun 54 hijriyah pada usia lebih dari 80 tahun Sa’ad bin Abi Waqqash meninggal dunia dengan dikafani sehelai kain tua dan lapuk yang sebelumnya dia katakana, “Telah kuhadapi orang-orang musyrik pada perang Badar dengan kain ini dan ia telah kusimpan sekian lama untuk keperluan seperti ini.” Sa’ad bin Abi Waqqas dimakamkan di makam Baqi’